BatamHighlight – Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis menyampaikan bahwa perekonomian Kota Batam saat ini berada pada fase pertumbuhan yang sangat agresif. Hal tersebut diungkapkannya usai peluncuran aplikasi Manajemen Talenta Batam (MANTAB), yang diharapkan mampu mempercepat penyerapan tenaga kerja lokal di berbagai sektor industri.
Menurut Djemy, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Batam hingga kuartal III 2025 mencapai 6,89 persen, jauh melampaui rerata nasional yang berada di kisaran 1,5 hingga 2 persen.
“Pertumbuhan ini ditopang oleh pesatnya aktivitas industri strategis di Batam,” ujar Djemy.
Djemy menjelaskan, saat ini Batam memiliki antara 1.700 hingga 1.900 perusahaan yang bergerak di sektor manufaktur, logistik, dan teknologi. Selain itu, terdapat 31 kawasan industri serta 135 galangan kapal, atau sekitar 67 persen dari total galangan kapal nasional.
Kekuatan tersebut menjadikan Batam sebagai pusat industri maritim terbesar di Indonesia, sekaligus menarik masuknya investasi dan pendapatan daerah.
Namun, Djemy menilai perkembangan ekonomi yang cepat ini belum sepenuhnya diimbangi oleh kesiapan sumber daya manusia lokal. Tingkat pengangguran terbuka di Batam masih berada pada 7,68 persen, atau sekitar 3 persen lebih tinggi dari angka nasional yang berada di level 4,82 persen.
“Dari total 990 ribu penduduk usia kerja, masih terdapat sekitar 50 hingga 51 ribu pencari kerja yang belum terserap,” katanya.
Djemy menambahkan, pada 2024 terdapat 23.551 pencari kerja baru di Batam. Tingginya upah minimum Kota Batam yang mendekati Rp5 juta turut memicu masuknya pencari kerja dari berbagai daerah, sehingga meningkatkan persaingan di pasar tenaga kerja.
Melihat kondisi tersebut, BP Batam menghadirkan platform MANTAB untuk menjawab kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga kerja kompeten.
MANTAB dikembangkan sebagai ekosistem ketenagakerjaan yang menghubungkan sektor pendidikan, industri, dan pemerintah. Platform ini melibatkan Politeknik Negeri Batam, lembaga pendidikan lainnya, BUMN, perusahaan manufaktur, teknologi, logistik, maritim, hingga pelaku UMKM dan ekonomi kreatif.
“MANTAB memanfaatkan teknologi AI dan IoT untuk memetakan kemampuan tenaga kerja, menyediakan pelatihan, menstandarkan sertifikasi nasional dan global, serta menyediakan job matching secara real-time,” jelas Djemy.
Ia menuturkan, pengembangan platform ini terinspirasi dari sistem ketenagakerjaan di berbagai negara maju, seperti Dual Vocational System di Jerman, SkillsFuture di Singapura, budaya Monozukuri di Jepang, serta integrasi riset kampus dan industri di Korea Selatan.
“Semua negara itu berhasil karena kolaborasi berkelanjutan antara talenta, industri, dan pemerintah. Itulah yang kami wujudkan di Batam,” ujarnya.
BP Batam menargetkan bahwa dalam lima tahun mendatang, seluruh lulusan pendidikan di Batam akan memiliki profil kompetensi digital yang tersimpan dalam sistem dan dapat diakses langsung oleh industri.
Dengan hadirnya MANTAB, BP Batam berharap pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas dan serapan tenaga kerja lokal.
“Investor datang bukan hanya karena insentif atau kemudahan perizinan, tetapi karena Batam punya human capital yang unggul dan siap kerja,” tutup Djemy.
