BatamHighlight.com, Batam – Jubah superhero berkibar di atas lapangan bulu tangkis. Wajah-wajah menyeramkan ala film horor bermunculan. Teriakan suporter bersahutan, diselingi gelak tawa yang pecah hampir di setiap sudut GOR Badminton Gemilang, lingkungan Polda Kepulauan Riau, Sabtu (8/8/2026) pagi.
Bukan adegan film. Bukan pula pertunjukan teater. Ini adalah suasana perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia yang digelar Bidpropam Polda Kepri.
Para perwira yang sehari-hari dikenal dengan wajah serius, sikap tegap, dan tuntutan kedinasan yang penuh disiplin, pagi itu tampil dengan wajah yang sama sekali berbeda. Seragam kedinasan berganti kostum superhero. Raut tegas berubah menjadi ekspresi kocak. Lapangan yang biasanya digunakan untuk berolahraga mendadak menjelma panggung hiburan.
Satu per satu peserta memasuki arena. Mereka tidak datang sekadar membawa raket. Mereka membawa karakter. Ada yang tampil gagah dengan jubah superhero. Ada yang bergaya seperti tokoh film laga. Ada pula yang harus memainkan karakter yang diperolehnya melalui undian.
Tidak ada kesempatan memilih tokoh favorit. Siapa mendapat apa, itulah yang harus dimainkan. Justru aturan sederhana itu yang membuat suasana semakin liar dan menghibur.
Seorang perwira yang biasanya tampil penuh wibawa harus berusaha menghidupkan karakter yang mungkin sama sekali tidak pernah dibayangkannya. Gerakan dibuat lebih dramatis. Wajah dipasang sesangar mungkin. Langkah kaki dibuat menyerupai tokoh yang diperankan.
Suporter langsung bersorak.
Belum satu kok pun dipukul, GOR sudah riuh oleh tawa. Kamera ponsel diarahkan ke lapangan. Setiap gaya peserta menjadi tontonan. Setiap ekspresi menjadi bahan candaan. Tidak ada yang merasa perlu menjaga jarak.
Pagi itu, pangkat seolah ditinggalkan sejenak di luar arena. Setelah parade karakter, kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin Kepala Bidang Propam Polda Kepri, Kombes Pol Eddwi Kurniyanto.
Suasana yang sebelumnya riuh seketika berubah khidmat sejenak.
Doa menjadi penanda bahwa di balik kemeriahan tersebut, kegiatan tetap membawa satu tujuan: memperkuat kebersamaan dan silaturahmi di antara personel.
Kombes Eddwi mengatakan kegiatan tersebut sengaja dibuat berbeda untuk memberikan ruang bagi personel menikmati suasana yang lebih santai di tengah padatnya rutinitas kedinasan.
“Kegiatan ini diselenggarakan untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus menghadirkan hiburan segar di tengah padatnya agenda kerja Bidpropam,” tutur Kombes Eddwi.
Usai doa, lapangan kembali bergemuruh. Sebanyak sembilan tim atau 18 perwira mulai bertanding bulu tangkis. Namun, ada satu hal yang membuat pertandingan kali ini berbeda dari pertandingan pada umumnya.
Mereka tetap mengenakan kostum superhero hasil undian. Raket sudah berada di tangan. Kok melayang. Lawan berdiri di seberang net.
Masalahnya, jubah dan atribut yang membuat mereka terlihat gagah ternyata tidak selalu bersahabat dengan gerakan di lapangan.
Ada yang harus mengejar kok sambil menahan jubah agar tidak mengganggu langkah. Ada yang melakukan smash dengan gerakan setengah canggung. Ada pula yang justru tampak seperti sedang berkelahi dengan kostumnya sendiri.
Setiap kesalahan disambut tawa. Setiap poin disambut sorakan dan setiap aksi nekat mendapat tepuk tangan.
Lapangan bulu tangkis itu akhirnya bukan lagi sekadar tempat mencari siapa yang paling kuat dan paling cepat. Ia menjadi ruang tempat para perwira saling menertawakan tanpa harus merasa tersinggung.
Kemenangan tetap penting. Tetapi suasana jauh lebih penting. Sebab yang dipertaruhkan pagi ini bukan hanya angka di papan skor, melainkan bagaimana satu tim bisa tertawa bersama dan bagaimana seorang rekan bisa melihat sisi lain dari orang yang selama ini hanya dikenal melalui pekerjaan yang menyedapkan kedisiplinan.
Di bagian lain arena, para perwira wanita tak kalah mencuri perhatian. Mereka tidak turun dalam pertandingan bulu tangkis. Sebagai gantinya, mereka diajak memainkan permainan tradisional ‘Benteng’.
Dua tim, masing-masing terdiri dari empat perwira wanita, saling berhadapan. Permainan masa kecil itu kembali hidup di lingkungan Polda Kepri.
Tak ada raket. Tak ada kok. Tak ada jaring. Yang ada hanya kecepatan kaki, strategi, keberanian, dan kekompakan. “Untuk perwira wanitanya memainkan permainan ‘Benteng’. Itu permainan waktu kita kecil dulu,” katanya.
Peserta berlari mengejar lawan. Saling menghindar. Saling memberi aba-aba. Sesekali strategi buyar dan berakhir dengan tawa.
Sorakan suporter kembali memenuhi GOR. Permainan sederhana itu seolah membawa mereka kembali ke masa ketika kebahagiaan tidak membutuhkan banyak hal. Cukup sekelompok teman, sebuah lapangan, dan permainan yang membuat semua orang berlari sampai kehabisan napas.
Di situlah semangat kemerdekaan terasa dengan cara yang berbeda.
Tidak selalu melalui seremoni. Tidak pula melalui pidato. Kadang kemerdekaan hadir ketika seseorang bisa tertawa lepas bersama orang-orang yang setiap hari bekerja dengannya.
Kegiatan Bidpropam Polda Kepri ini menjadi pengalaman baru karena untuk pertama kalinya olahraga, kostum karakter, dan permainan tradisional dipadukan dalam satu perayaan HUT Kemerdekaan di lingkungan Polda Kepri.
Kemeriahan semakin lengkap dengan total hadiah senilai Rp25 juta.
Hadiah disiapkan untuk juara pertama, kedua, dan ketiga. Tidak hanya mereka yang unggul dalam pertandingan yang mendapat apresiasi. Peserta dengan kostum paling menarik juga mendapatkan penghargaan khusus. Dengan begitu, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh skor.
“Total hadiah Rp 25 juta, untuk juara 1,2 dan 3. Ada juga penilaian kostum terbaik,” turur Kombes Eddwi, sambil menikmati keseruan pertandingan.
Kreativitas juga dihitung. Keberanian tampil juga dihargai, kata dia. Dan kemampuan membuat orang lain tertawa pun mendapat tempat.
Namun, jika ada sesuatu yang paling mahal dari seluruh rangkaian kegiatan itu, barangkali bukanlah hadiah Rp25 juta. Melainkan suasana yang tercipta.
Sebab ada momen-momen yang tidak tercatat dalam papan skor. Tawa seorang perwira yang gagal mengembalikan kok.
Sorakan rekan kerja ketika seorang pemain dengan jubah superhero berhasil mencetak angka. Wajah-wajah yang biasanya serius berubah menjadi penuh ekspresi.
Atau empat perwira wanita yang berlari mengejar lawan dalam permainan ‘Benteng’, seperti kembali menjadi anak-anak yang tak mengenal lelah. Semua itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, cerita yang lahir dari lapangan itu bisa bertahan jauh lebih lama.
Sebab pada akhirnya, sebuah organisasi bukan hanya tentang struktur, aturan, dan tanggung jawab. Ada manusia di dalamnya. Manusia yang juga membutuhkan ruang untuk tertawa, bermain, dan saling mengenal tanpa sekat kedinasan.
Sabtu pagi itu, GOR Badminton Gemilang menjadi saksi bahwa kemerdekaan bisa dirayakan dengan cara sederhana, bahkan dengan cara yang sedikit konyol.
Para superhero tidak sedang menyelamatkan dunia. Melainkan hanya sedang mengejar kok yang melayang di atas net.
Jubah mereka mungkin mengganggu gerakan. Riasan mungkin membuat wajah sulit dikenali. Permainan ‘Benteng’ mungkin membuat napas tersengal. Tetapi di antara semua itu, ada satu hal yang berhasil mereka menangkan bersama-sama yaitu Kebersamaan.
“Dan untuk sebuah perayaan kemerdekaan, mungkin itulah kemenangan yang sesungguhnya,” tutup Kombes Eddwi.
