Batamhighlight – Puluhan penggemar sekaligus pegiat catur dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menyuarakan mosi tidak percaya terhadap Pengurus Provinsi Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PERCASI) Kepri. Mereka menilai, organisasi yang menaungi olahraga asah otak itu telah lama kehilangan semangat pembinaan dan tidak menunjukkan aktivitas berarti dalam dua tahun terakhir.
Suara kritik itu mengemuka dalam sebuah pertemuan di kawasan Batam Center, Senin (4/11/2025) malam. Sejumlah perwakilan komunitas dan atlet catur berkumpul dan berdialog, sekaligus menyampaikan kekecewaan mereka atas kondisi PERCASI Kepri yang dinilai “tertidur lelap” tanpa agenda pembinaan maupun kompetisi.
Adhon, salah seorang tokoh dan penggemar catur Kepri, menyampaikan kritiknya dengan bahasa filosofis. Ia menggambarkan KONI Kepri sebagai “induk yang diam seribu bahasa” melihat anaknya, PERCASI, tertidur pulas tanpa memperhatikan nasib para atlet.
“Kami belum tahu pasti apa yang membuat PERCASI Kepri terbuai dalam tidur panjangnya. Tapi yang jelas, para penggemar dan atlet kehilangan panggung,” ujar Adhon dan diamini oleh puluhan penggemar catur yang hadir malam itu.
Dengan suasana santai namun penuh uneg-uneg pada masing-masing penggemar catur Kepri. Sahutan bersambut terdengar mengalir diantara olahragawan asah otak itu. Mereka juga menyoroti sikap Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kepri yang dianggap ikut diam dan tak berbuat banyak menyikapi kondisi ini. “Padahal 2026 sudah dekat, akan ada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Tanpa persiapan dan seleksi, bagaimana mungkin Kepri punya atlet catur yang siap bertanding?” ungkap Adhon.
Keresahan serupa disampaikan Patra, perwakilan penggemar catur dari Kabupaten Bintan. Ia menilai selama dua tahun terakhir tidak ada satu pun kegiatan resmi yang digelar PERCASI Kepri, baik dalam bentuk turnamen, pelatihan, maupun pembinaan atlet. Akibatnya, sejumlah atlet muda dan senior memilih hengkang ke daerah lain. “Banyak atlet Batam direkrut oleh daerah lain karena di Kepri tak ada wadah untuk berkembang,” ucapnya.
Menurut Patra, kompetisi adalah ruh olahraga catur. Ia menyebut, komunitas catur di Batam saja mencapai ribuan anggota yang aktif berlatih, namun tak punya ajang resmi untuk menunjukkan kemampuan.
“Tanpa pertandingan, bagaimana atlet mengukur kemampuan dan mempertajam strategi? Kami resah, karena selama dua tahun Kepri seolah kehilangan denyut catur,” katanya.
Senada, Indra seorang penggemar catur senior yang berusia 60 tahun yang dikenal dengan ciri khas cincin batu akik di jarinya, menuturkan bahwa banyak atlet potensial Kepri justru kini membela daerah lain. “Contohnya Hamdan Yelvi, atlet senior kita, kini sudah pindah ke Belitung Timur dan tampil di tingkat wilayah Sumatra dan menang pula se-sumatera. Wildan, atlet junior, kini memperkuat Banten. Kalau ini dibiarkan, Kepri akan kehilangan generasi catur berikutnya,” ungkapnya, dengan wajah penuh kekecewaan.
Para penggemar catur Kepri pun menyepakati mosi tidak percaya terhadap PERCASI Kepri. Mereka menilai, jika pengurus saat ini tidak mampu menggerakkan kembali roda organisasi dan pembinaan, sebaiknya memberikan kesempatan kepada pihak lain yang lebih serius. “Kalau memang tidak mampu, sebaiknya mundur dengan hormat. Ini demi masa depan atlet catur Kepri,” tegas Adhon dan diamini seluruh penggemar catur yang hadir.
Selain kritik, mereka juga membawa solusi konstruktif. Salah satunya, mendorong digelarnya turnamen tingkat provinsi secara rutin, membuka kembali jalur seleksi atlet, serta membangun koordinasi yang lebih aktif dengan PERCASI kabupaten/kota. Mereka berharap KONI dan Dispora Kepri ikut turun tangan memastikan olahraga catur kembali hidup.
“Gerakan olahraga catur itu harus hidup lewat pertandingan. Tanpa event, atlet tak akan berkembang. Sekolah catur di Batam sudah ada, tapi tanpa kompetisi, bagaimana anak-anak muda bisa menguji kemampuan mereka?” tutup Patra.
Keresahan ini menjadi tanda bahwa olahraga catur di Kepri tengah menghadapi masa krisis pembinaan. Di tengah diamnya pengurus, para pecinta catur kini berupaya menggugah kembali semangat olahraga berpikir itu, agar Kepri tidak kehilangan para jenius di atas papan hitam putih.
