BatamHighlight – Peringatan Hari Kartini di One Batam Mall, Minggu (3/5/2026), tampil berbeda. Komunitas Perkawinan Campuran (PERCA) Batam menghadirkan panggung seni yang memadukan kebaya, tarian tradisional, hingga balet sebagai simbol harmoni dalam keberagaman.
Acara yang didominasi penampilan anak-anak ini menghadirkan peragaan busana kebaya, pertunjukan tari, hingga talkshow. Para anggota PERCA Batam tampak kompak mengenakan kebaya, memperkuat nuansa penghormatan terhadap warisan budaya Indonesia dalam momentum Hari Kartini.
Ketua PERCA Batam, Adryana Sea, mengatakan peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan refleksi nilai-nilai Kartini yang relevan hingga kini.
“Hari Kartini bukan sekadar mengenang sosok beliau, tetapi tentang keberanian melampaui batas dan menyatukan perbedaan,” ujarnya.
Menurut Adryana, keluarga perkawinan campuran menjadi representasi nyata keberagaman Indonesia. Perbedaan budaya, bahasa, hingga kewarganegaraan justru melahirkan ruang saling memahami.
“Perbedaan bukan penghalang, melainkan jembatan untuk saling menghormati. Dari keluarga seperti ini lahir generasi yang melihat keberagaman sebagai kekayaan,” katanya.
Ia menjelaskan, PERCA Batam telah berdiri sejak 2012 dan terdaftar resmi di Kementerian Hukum dan HAM. Komunitas ini juga merupakan bagian dari jaringan PERCA Indonesia yang tersebar di berbagai daerah hingga luar negeri, seperti Singapura.
Di Batam, PERCA aktif melakukan pendampingan hukum, sosialisasi aturan keimigrasian dan kewarganegaraan, serta kegiatan sosial dan budaya. Keberadaan komunitas ini dinilai semakin penting mengingat Batam merupakan wilayah perbatasan dengan mobilitas internasional yang tinggi.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam, Ardiwinata, menilai Batam memiliki posisi strategis sebagai kota pariwisata sekaligus ruang pertemuan berbagai budaya.
“Batam memiliki konektivitas darat, laut, udara, dan digital yang baik. Ini menjadikan Batam kota yang terbuka dan dinamis, termasuk dalam keberagaman masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah tengah menyiapkan Taman Budaya di Gedung Beringin sebagai ruang ekspresi bagi komunitas.
“Silakan manfaatkan ruang itu untuk berkarya dan menampilkan seni budaya. Ini penting untuk memperkuat identitas budaya kita,” kata Ardi.
Selain itu, pemerintah juga mendorong pengembangan ekonomi kreatif yang mencakup 17 subsektor, seperti fesyen, kuliner, dan perfilman, yang dinilai selaras dengan aktivitas komunitas seperti PERCA.
Dalam konteks peringatan Hari Kartini, Ardi menekankan pentingnya peran perempuan dalam pembangunan.
“Perempuan tidak hanya berperan di ranah domestik, tetapi juga dalam pendidikan, ekonomi, dan kemajuan bangsa,” ujarnya.
