BatamHighlight – Suasana menjelang Idulfitri selalu menghadirkan warna tersendiri di sudut-sudut kota. Di Jalan H. Minan, kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan, lalu lintas kendaraan yang padat berpadu dengan aroma asinan segar yang menggoda.
Di tengah hiruk pikuk itu, seorang pria lanjut usia tampak sigap melayani pembeli. Senyumnya ramah, meski giginya tak lagi lengkap. Dialah Agus (70), pedagang asinan Bogor yang menyimpan kisah hidup penuh liku.
Tak banyak yang tahu, sebelum mendorong gerobak sederhana, Agus pernah menjadi bagian dari Kopassandha atau cikal bakal Kopassus, yang merupakan satuan elite TNI Angkatan Darat (AD).
Agus enggan mengungkap banyak tentang masa lalunya. Ia memilih menjalani hidup apa adanya. Sesekali, kisah itu muncul dalam canda ringan bersama pelanggan setia.
“Agus keluar dari Kopassandha karena malas manggil senjata,” ujar Sudayat, salah satu pelanggan, berseloroh, Jumat (20/3/2026).
Candaan itu langsung disambut tawa Agus. Bagi dia, hubungan dengan pelanggan bukan sekadar transaksi. “Semua warga di Pondok Pinang ini sudah macam saudara,” katanya.
Sambil meracik asinan, tangan Agus tetap lincah meski usia tak lagi muda. Ia bercerita, lahir pada 1955 dari keluarga berdarah Sumedang, dan besar di Bogor sebelum merantau ke Jakarta pada 1975.
Sejak itu, jalanan menjadi bagian dari hidupnya. Pada era 1980-an, Agus mulai berdagang dengan menjajakan gorengan, berjalan kaki dari Daan Mogot hingga Salemba. Panas dan hujan, hingga kerasnya kehidupan ibu kota, sudah ia lalui.
Perjalanan panjang itu akhirnya membawanya pada satu pilihan: berjualan asinan Bogor. Sekitar 30 tahun terakhir, ia setia menekuni usaha tersebut, berkeliling Pondok Pinang, Pondok Indah, hingga Bintaro.
“Langganan saya banyak juga dari kalangan artis. Di Pondok Indah kan banyak rumah artis,” ujarnya.
Dalam sehari, Agus kini bisa meraih penghasilan hingga Rp 500.000. Harga satu porsi asinannya Rp 15.000, relatif terjangkau dan tetap diminati berbagai kalangan.
Ia pun mengenang masa lalu ketika penghasilan tak seberapa. “Dulu dapat Rp 25.000 saja sudah hebat. Waktu itu harga asinan masih Rp 250 per porsi,” katanya.
Menjelang Lebaran, rezeki Agus biasanya meningkat. Ia mengaku kerap mendapat tambahan dari para pelanggan, terutama di kawasan Pondok Indah.
“Besok sudah mau hari raya, saya banyak dapat hadiah dari pelanggan. Alhamdulillah,” ucapnya.
Di usia senja, Agus tetap memilih berjualan. Baginya, aktivitas ini bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjaga kesehatan dan semangat hidup.
“Saya kalau nggak jualan takut stroke,” katanya sambil tertawa.
Di tengah kesibukan warga menyambut Lebaran, Agus terus mendorong gerobaknya, menyusuri jalan yang sama setiap hari. Ia bukan hanya menjual asinan, tetapi juga merawat hubungan, menyambung cerita, dan menebar kehangatan.
Bagi Agus, hidup bukan lagi soal masa lalu yang pernah dijalani, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah hari ini dengan sederhana, tulus, dan penuh rasa syukur.
