Feature

Budikdamber, Cara Warga Belakang Padang Mandiri Pangan

Batamhighlight – Di Kecamatan Belakang Padang, semangat kemandirian tumbuh dari hal yang sederhana, yakni dari sebuah ember. Di tangan warga pesisir, ember bukan sekadar wadah air, melainkan sumber kehidupan baru lewat program Budidaya Ikan dalam Ember (Budikdamber).

Inovasi ramah lingkungan ini kini menjadi sorotan, karena mampu memberi solusi bagi keterbatasan lahan di pulau-pulau kecil. Program tersebut digerakkan oleh Babinsa Koramil 05/Belakang Padang, Kodim 0316/Batam, dengan dukungan Dinas Perikanan dan CSR Pertamina.

Pada Selasa, 4 November 2025, suasana halaman Koramil 05/Belakang Padang terasa berbeda. Di antara deretan ember biru berisi ikan lele dan tanaman kangkung, Serda Roni Sitorus, Babinsa Pemping, sibuk mendampingi tim penyuluh dari Dinas Perikanan Kota Batam yang sedang melakukan survei lapangan.

“Kegiatan ini muncul dari keinginan warga untuk memanfaatkan lahan sempit agar bisa tetap produktif,” tutur Serda Roni.

Ia menceritakan bagaimana ide Budikdamber bermula dari percakapan sederhana dengan warga, khususnya kelompok wanita tani (KWT), yang ingin mengubah pekarangan rumah menjadi sumber pangan.

Dari komunikasi aktif itulah, Babinsa kemudian menyampaikan aspirasi warga kepada tim CSR Pertamina Pusat. Hasilnya? Bantuan datang berupa 15 ember berkapasitas 80 liter, 1.000 ekor bibit lele, bibit hortikultura, pupuk organik, dan peralatan pertanian pendukung.

Sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan sektor swasta ini menjadi pondasi kuat dalam pengembangan ketahanan pangan masyarakat pesisir.
Pendampingan Dinas Perikanan Batam Yahya mengatakan, Budikdamber adalah konsep sederhana namun berdampak besar. Selain menjaga ketahanan pangan, warga bisa menjadikannya sumber tambahan penghasilan.

“Ini sangat relevan bagi wilayah seperti Belakang Padang yang lahannya terbatas,” jelasnya

Pendekatan ini tidak hanya memperkuat kedaulatan pangan lokal, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan sosial, di mana warga dan aparat bersama-sama membangun kemandirian dari tingkat rumah tangga.

Perempuan sebagai Penggerak Utama

Kelompok wanita tani (KWT) binaan Babinsa menjadi motor utama keberhasilan program ini. Di tangan mereka, ember-ember Budikdamber berubah menjadi simbol ketekunan dan kebersamaan. Salah satunya adalah Ibu Nuraini, yang kini rutin mengelola budidaya lele di rumahnya.

“Kami merasa terbantu sekali. Dengan pendampingan Babinsa dan bantuan Dinas Perikanan serta Pertamina, warga lebih bersemangat. Kami bisa panen sendiri untuk makan dan juga menjual hasilnya,” ujarnya sambil tersenyum.

Selain manfaat ekonomi, program ini juga membangun solidaritas sosial. Warga kini sering berkumpul, berbagi tips memelihara ikan dan merawat tanaman, sekaligus menjaga semangat gotong royong yang mulai tumbuh kembali di lingkungan mereka.

Komandan Kodim 0316/Batam, Kolonel Arh Yan Eka Putra, menegaskan Babinsa harus hadir bukan hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi rakyat.

“Babinsa adalah bagian dari solusi sosial dan ekonomi masyarakat. Program Budikdamber menjadi contoh konkret sinergi antara TNI, pemerintah, dan warga,” ujarnya.

Kodim 0316/Batam berencana untuk memperluas pendampingan Budikdamber ke seluruh kecamatan di wilayah binaannya. Diharapkan, dari gerakan kecil di Belakang Padang ini, tumbuh model ketahanan pangan baru yang mandiri dan berkelanjutan.

Related Post

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More